Menyambung Rasa antar Bangsa di Indonesia Culinary Day

'Itikad baik itu sempurna disampaikan melalui makanan karena akan menjadi darah dan daging.
img_4817
img_4588

Pengunjung Indonesia Culinary Day 2016

Akhir pekan lalu PPI Kyoto Shiga melaksanakan program kerja terbesar dalam kepengurusan 2016, yaitu Indonesia Culinary Day (ICD). Acara yang baru diselenggarakan pertama kali oleh PPI Kyoto Shiga ini bertujuan untuk mengenalkan budaya kuliner Indonesia pada warga asli dan asing di area Kansai. Dibuka 9 booth yang menjual makanan dari berbagai daerah di Indonesia, antara lain; rendang, sate padang, nasi campur bali, mie goreng, dan sebagainya. Sembari menyantap makanan khas Indonesia, para pengunjung dapat menyaksikan panggung kesenian yang menampilkan Tari Saman, Tari Saureka-reka, Tari Golek, dan angklung. Selain itu, terdapat demonstrasi memasak makanan Indonesia oleh ibu-ibu Indonesia di Kyoto.

img_4606

Antrian panjang pengunjung Indonesia Culinary Day

Berdasarkan data dari Kyoto International Community House (Kokoka), tempat dilaksanakannya ICD, terdapat sekitar 2000 orang yang datang berkunjung. Warga Jepang, Indonesia, Malaysia, dan negara-negara lain berkumpul di halaman  Kokoka untuk menikmati kuliner Indonesia. Diantara warga Indonesia yang hadir, terdapat Mas Bambang Achmadi, Ketua PPI Kansai, dan rombongan mantan Ketua PPI Jepang dan Ketua PPI Mie, Mas Candra Wirawan dan Mbak Nuril Haya yang menempuh perjalanan 4 jam dari Kota Tsu untuk mencoba sate padang. Namun, karena minat yang begitu tinggi, mayoritas makanan telah sold out sekitar jam 2 siang. Hal ini merupakan respon bagus dari warga Jepang dan asing terhadap makanan khas Indonesia.

This slideshow requires JavaScript.


Acara dimulai pukul 11 dengan pertunjukan angklung dari mahasiswa Kyoto-Shiga dan anggota Asosiasi Persahabatan Jepang Indonesia. Tim ini telah dilatih selama 3 bulan oleh pelatih angklung andalan Kyoto Shiga, Jefry Prasetyo. Ada dua lagu yang dibawakan dalam kesempatan kali ini: Manuk Dadali sebagai lagu Indonesia dan 花は咲く (Hana wa Saku) sebagai lagu Jepang. Pertunjukkan ini mendapatkan respon hangat dari penonton. Acara dilanjukan dengan workshop membuat ketupat oleh mantan Ketua PPI Kansai, Hendy Setiawan. Orang Jepang yang biasa lihai dalam melipat kertas, kali ini ditantang untuk menganyam janur yang langsung dibawa dari Indonesia. Pukul 12.45 acara resmi dibuka oleh Wakil Ketua PPI Kyoto-Shiga, Hendra Adhi Pratama, dan disambut
oleh Pak Tumpal M.H. Hutagalung, Konsul Protokol dan Konsuler KJRI Osaka, dan Ibu Takahashi, Wakil Ketua Asosiasi Persahabatan Indonesia Jepang di Kyoto (APJIK).

img_4691

Tari Saureka reka

Pertunjukan berikutnya ialah 3 tarian dari 3 daerah berbeda di Indonesia; Saman dari Aceh, Golek dari Jawa, dan Saureka-reka dari Maluku. Tari Saman mendapatkan aplaus yang meriah dari penonton meskipun sudah sering ditampilkan di banyak kesempatan. Berbeda dengan Tari Saman, Tari Saureka-reka baru pertama kali ditampilkan di Kyoto. Tari yang menggunakan bambu sebagai instrumen ini dimainkan oleh 4 pria dan 4 wanita. Bambu-bambu tersebut diadu dan dipukulkan ke tanah, sementara penari menari di atasnya. Tarian ini menarik karena telihat berbahaya ketika dimainkan. Tari Golek kali ini spesial dipertunjukkan oleh orang Jepang asli, Kanako Kawashima. Ibu Kanako Kawashima pernah tinggal di Indonesia untuk beberapa waktu, sehingga tak hanya mahir berbahasa Indonesia, Ibu Kawashima pun gemulai menarikan Tari Golek.

img_4717

Tari Golek dibawakan oleh Ibu Kawashima

Rangkaian pertunjukan terakhir ialah demonstrasi masak oleh 3 koki Kyoto; Ibu Menik yang memperagakan cara memasak Molen, Teh Imbang yang mengajarkan teknik memasak Seroja, dan Ceu Riostantika yang menunjukkan cara memasak Papeda. Demonstrasi masak ini menarik perhatian kalangan ibu-ibu Jepang. Mereka tertarik terutama pada tata cara memasak Seroja. Acara ditutup dengan performa Angklung gabungan mahasiswa PPI Kyoto Shiga dengan APJIK. Indonesia Culinary Day merupakan bentuk bakti panitia untuk Tanah Air, memperkenalkan budaya kuliner Indonesia sebagai bentuk persahabatan antar bangsa, karena seperti kata nenek saya:

‘Itikad baik itu sempurna disampaikan melalui makanan karena akan menjadi darah dan daging.

 

Diselenggarakan oleh

Logo PPI KS  PPI KANSAIlogo-kjri-osaka Untitled

Disponsori oleh

iwahashi-sensei   kbri-tokyobni-logo   logo-centered-pantone 2                                     Ayam Ya

 

Didukung oleh

APJIK  Kyoto Fucity-of-kyoto

Categories
AgendaBerita
pawpaw

Administrator II Website PPI KS Graduate School of Medicine, Kyoto University

RELATED BY

  • S__6201384

    Malam Indonesia 2017

      Malam Indonesia merupakan sebuah ajang perkenalan dan pertukaran budaya Indonesia kepada warga Kyoto, Jepang. Pada tahun 2017 ini, pelajar Kyoto-Shiga Malam Indonesia akan menampilkan tarian-tarian dari berbagai daerah...
  • DSC_0238

    ISLAM DAN NASIONALISME DALAM SEJARAH INDONESIA DAN TANTANGANNYA DI MASA DEPAN

    Kajian Ilmiah PPI Kyoto-Shiga, 12 Maret 2017 Dr. Saiful Umam Pointers Presentasi Penulis: Dr. Saiful Umam 1. Nasionalisme sebagai “imagined community” ala Ben Anderson 2. Indonesia adalah salah satu,...
  • nabana no sato illumination

    Menyambut Musim Semi, Menanti Bunga Bermekaran

    Selamat datang di portal resmi PPI Kyoto-Shiga. Musim dingin di Kyoto memang jarang menyajikan salju tebal, akan tetapi suhu dingin tetap terasa menusuk tulang. Dinginnya musim dingin pun akan...
  • pexels-photo-12233

    Desember: Akhir dan Awal

    Selamat datang di portal resmi PPI Kyoto-Shiga. Pada awal Desember 2016, kepengurusan PPI Kyoto-Shiga periode 2015-2016 resmi berakhir dengan ditandainya pemaparan laporan tanggung jawab dan pemilihan ketua PPI Kyoto-Shiga...