ISLAM DAN NASIONALISME DALAM SEJARAH INDONESIA DAN TANTANGANNYA DI MASA DEPAN

Islam menjadi faktor pengikat yang cukup ampuh di tengah absennya kesatuan budaya, bahasa, dan sejarah
DSC_0238

Kajian Ilmiah PPI Kyoto-Shiga, 12 Maret 2017

Dr. Saiful Umam

Pointers Presentasi

Penulis: Dr. Saiful Umam

1. Nasionalisme sebagai “imagined community” ala Ben Anderson

2. Indonesia adalah salah satu, jika bukan satu-satunya, proyek nasional paling sukses dalam sejarah negara-negara bangsa.

3. Salah satu blessing in disguise dari kolonialisme Belanda adalah ide tentang negara- bangsa dan nasionalisme.

4. Nasionalisme tumbuh dan berkembang di kalangan elit terdidik, khususnya di tradisi Belanda.

5. Namun di sisi lain, penolakan terhadap penjajah tumbuh kuat di kalangan penduduk nusantara, jauh sebelum ide tentang nasionalisme lahir.

6. Penolakan tersebut sebagian besar didorong oleh semangat keagamaan, khususnya Islam.

7. Semangat keagamaan dalam menolak penjajah ini terus ada dan kemudian juga membawa kesadaran akan nasionalisme atas dasar agama.

8. Dalam saat bersamaan, muncul kesadaran di Timur Tengah akan kelemahan umat Islam di dunia.

9. Para pelajar nusantara di Kairo dan juga Mekah merupakan kelompok yang punya kesadaran itu. Menurut Lafaan (Islamic Nationhood and Colonial IndonesiaI), konsep Bilad al-Jawi merupakan konsep yang comaprable dengan nasionalisme.

10. Menurut Kahin (Nationalism and Revolution in Indonesia), Islam adalah salah satu faktor penting dalam tumbuh dan perkembangnya nasionalisme. Tentu saja bukan satu-satunya, karena menurutnya selain Islam, ada lima faktor lainnya yang juga berkontribusi:

  1. Kekuasaan tunggal Belanda atas nusantara,
  2. Kejayaan Sriwijaya dan Majapahit,
  3. Digunakannya bahasa Melayu sebagai lingua franca,
  4.  Adanya Volksraad,
  5. Berkembangnya vernacular press dan radio.

11. Von der Mehden (Religion and Nationalism in Southeast Asia) juga mengakui pentingnya Islam dalam lahirnya nasionalisme di Indonesia, khususnya dalam kasus lahirnya Sarekat Islam. Islam menjadi faktor pengikat yang cukup ampuh di tengah absennya kesatuan budaya, bahasa, dan sejarah. Faktor lain selain Islam adalah: diskriminasi berdasarkan warna kulit, pendidikan ala Barat, represi dan depresi ekonomi, dan perkembangan telekomunikasi.

12. Dalam pandangan Hobsbwam (Nations and Nationalism since 1780), nasionalisme berdasarkan agama tertentu masih dianggap sebagai proto-Nationalism. Meski demikian, ia tetap penting karena, menurut Anderson, ada tiga akar dari nasionalisme, yakni: komunitas agama, kekuasaan dinasi, dan kesadaran akan masa.

13. Namun sejak Sumpah Pemuda, diskursus nasionalisme didominasi oleh kalangan nasionalis sekuler, sampai kemerdekaan dan bahkan sampai sekarang.

14. Tumbangnya Orde Baru dan lahirnya reformasi yang mengusung nilai-nilai demokrasi, memungkinkan tumbuhnya lagi identitas-identitas kagamaan (Islam) dalam ranah publik (ekonomi, sosial, politik).

15. Dalam waktu bersamaan, persaingan antara Iran dan Saudi dalam memperebutkan pengaruh di dunia Islam menyebabkan banyaknya aktivis dari masing-masing kelompok pendukung untuk mendeligitimasi kelompok lainnya. Selama ini, karena kedekatan dengan Saudi dan dukungan finansial yang lebih besar, gerakan-gerakan yang dipengaruhi faham keagamaan Saudi menunjukkan lebih dominan.

16. Identitas keagamaan (Islam) makin menguat dan sering digunakan untuk kepentingan-kepentingan ekonomi dan politik.

17. Diskriminasi dan intoleransi jika diarahkan pada kelompok-kelompok non-Islam dianggap biasa dan wajar.

18. Sebaliknya jika ada nada intoleransi atau olok-olok terhadap faham Islam, menjadi isu besar.

19. Semua ini menjadi tantangan masa depan, apakah Nasionalisme akan tetap pada prinsip yang pernah diungkapkan oleh ahli, seperti Ben Anderson.

20. Atau nasionalisme di Indonesia akan berubah menjadi Nasionalisme Religius.

 

Rangkuman Presentasi dan Diskusi

Notulen: Widha Dyah dan Tim Kajian Ilmiah PPI Kyoto-Shiga

 

Islam di Indonesia pada Zaman Pra-1945 dan Pasca-1945

Nasionalisme merupakan ide sarjana barat tentang ‘Negara Bangsa’ (Nation State), kondisi dimana ada satu hal yang mempersatukan masyarakat sebagai identitas lebih dari identitas lokal. Identitas lokal (locality) misalnya kerajaan (identitas berdasarkan kedekatan lokasi), kesamaan agama atau kesamaan suku. Konsep Negara Bangsa dianggap sukses di Indonesia saat Bahasa Indonesia diadopsi sebagai Bahasa Pemersatu.

Islam dan Nasionalisme Indonesia berperan penting dalam membangun semangat untuk melawan kekuatan kolonial pada masa sebelum kemerdekaan Indonesia. Kekuatan kolonial Barat melihat gerakan keagamaan sebagai usaha untuk menentang keadaan status quo. Di lain pihak, Jepang memanfaatkan kelompok aktivis keagamaan untuk memperkuat posisinya di tanah air, terutama untuk melawan dominasi kekuatan kolonial Barat. Jepang juga membuka peluang untuk aktivis Islam untuk lebih mengenal dan belajar tentang politik Barat.

Keadaan Saat Ini

Hasil survey terhadap Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) pada suatu wilayah menunjukkan bahwa Guru PAI menerima dasar negara Pancasila & UUD’45 sekaligus memiliki aspirasi kuat untuk penerapan Syariát Islam. Apirasi ini juga ditunjukkan pada penolakan mereka terhadap masyarakat penganut Syi’ah dan Ahmadiyah. Hasil survey yang diselenggarakan oleh Wahid Foundation bekerjasama dengan Lembaga Survey Indonesia (LSI) (per Maret – April 2016) juga menunjukkan bahwa lebih dari 60% responden menyatakan rasa tidak suka (MOST DISLIKED) mereka pada kelompok (agama, ras, preferensi politik dan seksual) yang berbeda. Berdasarkan survey tersebut, fakta di lapangan menunjukkan ada indikasi penguatan identitas religius dari umat Islam, dimana mereka tidak suka atau sulit menerima perbedaan, hingga pada titik berpotensi mengganggu atau bahkan merubah ide Nasionalisme yang dibangun oleh para pendiri bangsa.

 

Sesi diskusi

Sesi diskusi diwarnai dengan beberapa pertanyaan menarik dari rekan-rekan yang hadir di acara ini. Salah satu peserta menanyakan mengenai adanya pendapat bahwa penolakan umat Islam terhadap Ahmadiyah adalah penolakan terhadap Ahmadiyah sebagi bagian dari Islam, bukan menolak Ahmadiyah itu sendiri. Pak Umam merespon pertanyaan tersebut dengan menjelaskan perdebatan tentang apakah Ahmadiyah adalah bagian dari Islam atau tidak sudah sejak lama terjadi diantara para cendekiawan muslim. Namun, terlepas dari konten penolakan umat Islam terhadap golongan lain, yang menjadi kekhawatiran adalah tindakan vandalisme dan kekerasan terhadap golongan lain dengan alasan pembelaan agama. Tindakan kekerasan dan vandalisme dan konflik sosial di akar rumput belakangan ini lebih sering terjadi, mengindikasikan pengabaian terhadap nilai nasionalisme.

Pertanyaan selanjutnya adalah mengenai keberadaan konsep nasionalisme dalam Islam. Pak Umam menjawab tidak ada konsep nasionalisme dalam Islam. Nasionalisme dalam Islam berdasarkan pada kesamaan agama. Diskusi dilanjutkan dengan pertanyaan mengenai penerapan Syariat Islam di survey yang dipaparkan, karena beberapa hukum di Indonesia telah mengadopsi hukum Islam, meski tidak eksplisit. Pak Khairul Umam berpendapat bahwa Hukum Islam yang diadopsi saat ini terkait dengan hukum perdata di Indonesia, misalnya hukum waris dan pernikahan. Yang diharapkan oleh responden survey adalah syariah yang mengatur hukum pidana untuk semua tanpa memandang agama. Namun hal tersebut tidak mungkin dilakukan di Negara Bangsa. Tidak adil untuk menerapkan hukum pidana Islam bagi penganut agama lain.

Categories
AgendaBerita
ppikyoto

Administrator website PPI Kyoto Shiga

RELATED BY

  • S__6201384

    Malam Indonesia 2017

      Malam Indonesia merupakan sebuah ajang perkenalan dan pertukaran budaya Indonesia kepada warga Kyoto, Jepang. Pada tahun 2017 ini, pelajar Kyoto-Shiga Malam Indonesia akan menampilkan tarian-tarian dari berbagai daerah...
  • nabana no sato illumination

    Menyambut Musim Semi, Menanti Bunga Bermekaran

    Selamat datang di portal resmi PPI Kyoto-Shiga. Musim dingin di Kyoto memang jarang menyajikan salju tebal, akan tetapi suhu dingin tetap terasa menusuk tulang. Dinginnya musim dingin pun akan...
  • pexels-photo-12233

    Desember: Akhir dan Awal

    Selamat datang di portal resmi PPI Kyoto-Shiga. Pada awal Desember 2016, kepengurusan PPI Kyoto-Shiga periode 2015-2016 resmi berakhir dengan ditandainya pemaparan laporan tanggung jawab dan pemilihan ketua PPI Kyoto-Shiga...
  • sertijab

    New Chapter: Pemilihan Ketua PPI Kyoto Shiga

    Tim Pemilihan Ketua PPI (PILKAPI) Kyoto Shiga mengadakan Musyawarah Warga pada hari Minggu, 4 Desember 2016. Acara dibagi menjadi dua sesi; 1) Laporan pertanggung jawaban pengurus 2015-2016 dan 2)...