Hiking di Jepang part 1: Kamikochi (Nagano)

Sebuah Pembuka yang Sempurna

Pendahuluan

Seperti yang teman-teman mungkin tahu, studi di Jepang yang mana meliputi tekanan akademis, ekspektasi sensei dan ambang batas masa beasiswa bisa membuat kepala kita stress berkepanjangan. Oleh karenanya, menekuni hobi di sela-sela waktu bebas menjadi sangat penting demi menjaga kewarasan otak kita yang sangat berharga ini. Sebelum datang ke Jepang, yang namanya mendaki gunung, sama sekali tidak ada dalam kepala saya, boleh dibilang, saya, anak nya pantai banget. Tapi setelah tinggal di Jepang, suatu waktu saya diajak teman saya untuk mendaki Hiei-zan di Kyoto. Sejak saat itu-lah saya jatuh hati sama kegiatan yang satu ini dan memutuskan untuk menekuni nya sebagai hobi.

Sekali waktu, ketika saya sedang browsing jurnal penelitian (pencitraan), entah bagaimana sampai lah saya pada laman ini :https://www.lonelyplanet.com/japan/travel-tips-and-articles/76878

Laman tersebut berisi tentang Top 5 hiking areas in Japan yang mana adalah:

  1. Daizetsuzan National Park (Hokkaido)
  2. Kamikochi (Nagano)
  3. Fuji san (Shizuoka)
  4. Yakushima (Kagoshima)
  5. Aso san (Kumamoto)

Dengan ambisiusnya, saya bertekad menjajal lokasi-lokasi tersebut sampai sebelum lulus studi. Alhamdulillah, dengan menggerogoti tabungan beasiswa dan curi-curi waktu sehabis konfrensi ilmiah, saya sudah “bersilaturahmi” dengan empat dari lima lokasi di atas, kecuali Yakushima. Karena menurut saya pemandangan di empat lokasi ini sangat-sangat indah, sayang rasanya kalau teman-teman apalagi yang hobi nya hiking melewati tempat-tempat ini. Untuk mencapai tempat-tempat tersebut, akses nya tidak sulit, tetapi tidak mudah juga, makanya butuh persiapan dan perencanaan yang matang. Oleh karenanya, saya bermaksud berbagi pengalaman perjalanan saya ke-4 lokasi yang terdaftar dalam Top 5 hiking areas in Japan. よろしく!

Dari semua lima lokasi di Top 5 hiking areas in Japan, Kamikochi adalah yang lokasi nya paling dekat dengan Kyoto. Area ini terletak di Pegunungan Alpen Utara di dekat perbatasan antara Gifu-ken dan Nagano-ken. Hiking di area ini sayangya tidak dapat dilakukan sepanjang tahun. Karena tumpukan salju yang sangat tebal, pertengahan November sampai dengan pertengahan April, demi keselamatan, kawasan ini ditutup. Pada saat itu, saya ke sana pada bulan Oktober, cuaca dingin sudah mulai terasa dan pada malam hari suhu dapat mendekati 00 celsius.

Pemandangan Gunung Oku-Hotaka dari salah satu spot di kawasan Kamikochi.

Pemandangan Gunung Oku-Hotaka dari salah satu spot di kawasan Kamikochi.

Akses dan Akomodasi

Kota besar terdekat dengan Kamikochi dan paling mudah diakses dari Kyoto adalah Hida Takayama. Beberapa cara dapat digunakan untuk mencapai kota ini. Diantaranya:

  1. Cara paling nyaman mungkin dengan kereta. Apalagi buat yang rekening tabungan-nya gendut, dapat menggunakan Shinkansen Nozomi sampai Nagoya, dilanjutkan dengan Limited Express Hida sampai stasiun terakhir, Takayama. Rogohlah kocek-nya sedalam 10,170 Yen untuk sekali jalan yang mana ditempuh selama tiga jam. Alternatif lain, di musim 18kippu, dengan 4-5 kali transfer selama 6 jam, Takayama dapat dicapai dengan hanya 2,500 yen. Silakan cek jadwal keretanya di Hyperdia.com
  2. Bus. Apabila shinkansen dan limited express terlalu mahal dan 18kippu dirasa terlalu menguras waktu dan tenaga, menggunakan bus cepat dapat menjadi salah satu alternatif. Perjalanan dengan bus ditempuh selama 4 jam dengan tarif 4,200 Yen sekali jalan. Silakan cek di link berikut untuk info selengkapnyahttps://www.nouhibus.co.jp/english/kyoto_osaka.html

Saya sendiri memilih menggunakan bus. Selain untuk menghemat uang dan juga tenaga (baca:miskin), jadwal bus sangat cocok dengan perencanaan yg telah disusun. Bus berangkat dari Kyoto pada jam 17:30 dan sampai di Takayama pada pukul 21:30. Sehingga dapat bermalam di Takayama untuk mengumpulkan energi sebelum keesokan hari nya memulai hiking. Takayama adalah kota wisata , dimana wisatawan yang ingin mengunjungi Shirakawa go, Shin-Hotaka ropeway, dll biasanya bermalam di kota ini, sehingga berbagai macam hotel tersedia. Untuk budget travellers, hostel semacam K’house atau J-Hoppers dengan rate tidak lebih dari 3,000 yen semalam, tersedia di kota ini. Info selengkapnya termasuk reservasi tersedia di : Hostelworld.com

Dari Takayama, perjalanan menuju Kamikochi ditempuh selama 1 jam 30 menit dengan menggunakan bus. Bus berangkat dari terminal Takayama dengan tujuan Shin Hotaka Ropeway, turun di Hirayu Onsen, dan dilanjutkan bus dengan tujuan akhir Kamikochi. Tarif untuk sekali jalan adalah 2,500 yen. Tiket semua bus pulang-pergi dapat di beli di kantor Nouhi Bus di dalam terminal. Jadwal bus dapat dilihat di dua link berikut :

https://www.nouhibus.co.jp/english/hirayu_shinhotaka.html untuk rute (Takayama-Shin Hotaka)

https://www.nouhibus.co.jp/english/kamikochi.html untuk rute (Hirayu onsen-Kamikochi)

Jalur Pendakian

Berikut adalah jalur yang lazim diambil para pendaki :

Taisho Pond-Kappa Bridge-Myojin Pond-Tokusawa-Myojin Bridge-Bus Terminal

Waktu tempuh dari Taisho pond sampai Tokusawa kurang lebih 3 jam, tambahkan menjadi 3,5 jam untuk memperhitungkan ratusan foto pemandangan dan selfie. Perjalan pulang dari Tokusawa menuju Bus Terminal kurang lebih 1.5 jam. Sehingga pada dasar nya, pendakian dapat di lakukan seharian saja. Namun, harap diperhatikan jadwal bus yang tersedia. Waktu tempuh yang lebih detil dapat dilihat di gambar di bawah. Kalau sampai terlambat bus terakhir menuju Takayama, penginapan di Kamikochi cukuo mahal.

pic 2

Pada saat itu, saya mengikuti betul alur yang diberikan pada gambar diatas, hanya saja, perjalanan saya lanjutkan dari Shimura Bridge menuju Karasawa (2 jam) dan berkemah di sana. Keesokan pagi nya bergerak turun pulang menuju Kamikochi Bus Terminal.

Pendakian

Hari itu pukul 6:30, setelah mandi, sarapan dan minum segelas kopi, saya bergegas keluar dari J-Hoppers menuju Terminal Bus Takayama yang hanya berjarak kurang lebih 500 meter. Temperatur lumayan sejuk, hanya dengan memakai jaket selapis sudah cukup menghangatkan tubuh. Tiba di terminal bus, saya langsung membeli tiket untuk keberangkatan pertama pukul 7 pagi. Tidak banyak orang lain yang hendak naik bus tersebut. Hanya sekitar 10 orang dengan perlengkapan hiking lengkap dari kepala sampai kaki. Seperti biasanya, bus berangkat tepat waktu pada pukul 7, saat itu, pemandangan masih belum dapat dilihat karena tertutup kabut. Barulah ketika tiba di Hirayu Onsen, kabut sudah turun dan langit biru cerah mulai tampak. Bus dari Hirayu onsen tujuan Kamikochi juga berangkat tepat waktu pada pukul 8. Selama 25 menit, saya menikmati pemandangan perbukitan di kawasan ini dari dalam bus. Pada pukul 8:30, saya turun di Taishoike Bus Stop, dan perjalanan di hari pertama pun di mulai.

Taishoike-Kappa Bridge

Taisho pond

Taisho pond

Pemandangan indah Taisho Pond langsung menyapa saya ketika baru memulai perjalanan. Keindahan gunung Oku-Hotaka, dipermanis oleh refleksi-nya yang muncul di permukaan air Taisho Pond. Bukan main indahnya. Pagi hari memang waktu yang paling cocok untuk melihat pemandangan dari Taisho pond karena di waktu itulah matahari berada pada ketinggian ideal yang mana membuat refleksi dari gunung Oku-Hotaka dapat terlihat jelas di danau. Walaupun susah untuk moving on, mengingat perjalanan sampai Karasawa masih panjang, saya paksakan untuk meneruskan perjalan.

Kurang lebih setelah 10 menit berjalan, saya dihadapkan pada aliran sungai kecil yang merupakan pemasok air untuk Taisho Pond. Sekali lagi saya dibuat terpana oleh pemandangan di depan mata saya. Bulan Oktober di Kamikochi sudah masuk musim gugur. Sehingga, perubuhan warna daun menjadi merah atau hijau muda sudah mulai tampak. Perpaduan air sungai jernih, warna-warni daun, pegunungan alpen utara dan langit biru sungguh luar biasa.

sungai yang mengalir menuju Taisho Pond

sungai yang mengalir menuju Taisho Pond

Pemandangan menuju Kappa Bridge

Pemandangan menuju Kappa Bridge

Perjalanan dari Taisho pond menuju Kappa Bridge yang harusnya 30 menit, pada saat itu ditempuh dengan waktu satu jam. Kalap mengambil foto sebanyak-banyaknya. Menuju Kappa Bridge, jalan sudah mulai dipenuhi oleh para hikers. Karena jalan kecil, kadang kita harus bergantian dan saling memberi kesempatan kepada hikers yang datang dari arah yang berlawanan. Satu budaya yang menurut saya cukup menarik dalam ber-hiking­ ria di Jepang adalah aisatsu (salam). Ketika berpapasan, sudah menjadi budaya bagi hiker untuk menyapa dengan mengucapkan “Konnichiwa!”. Dari budaya ini, kita bisa tahu mana orang Jepang yang sudah sering hiking atau hanya sekali-dua kali. Satu lagi etika yang penting untuk diketahui, ketika berpapasan dengan hiker lain dan jalan hanya bisa dilewati satu orang, orang yang sedang menanjak harus didahulukan. Tapi kita harus dapat baca situasi juga. Kadang ketika berpapasan, karena orang yang datang dari bawah mungkin sudah lelah, sehingga dia berharap kita, yang sedang turun, mengambil jalan duluan dan dia dapat beristirahat sejenak. Jangan sampai hanya karena etika kita paksa orang yang sedang lelah ini untuk mengambil jalan duluan! Lho kok curcol ya?

Kappa Bridge-Tokusawa 

Kappa Bridge merupakan pusat keramaian di kawasan kamikochi. Di sini banyak terdapat restoran dan toko cinderamata. Bagi yang perlengkapan hiking nya belum memadai, beberapa toko menjual peralatan tersebut. Namun jangan kaget apabila harganya jauh lebih mahal dibandingkan dengan di kota. Di Kappa bridge juga terdapat toilet terakhir sebelum toilet berikutnya yang berada di Myojin Pond. Ada tulisan menarik di toilet ini. Kira-kira berbunyi “Hati-hati pada beruang! Lengkapi diri anda dengan lonceng beruang!”. Saya langsung panik dibuatnya. Apalagi baru kali itu saya dengar yang namanya lonceng beruang. Kalau tiba-tiba diserang beruang, masa saya tutup usia sebelum menikah? Masa saya tutup usia sebelum punya anak? Belum punya satu publikasi umur sudah tamat(?)? Tuh kan curcol lagi. Stop it Ga!Curcol does not make your field report interesting! *monolog

Anyway, karena di toko-toko sekitar Kappa Bridge tidak menjual lonceng beruang dengan harga yang masuk akal, saya memutuskan untuk mempertaruhkan nyawa dan keperjakaan dengan melanjutkan perjalanan tanpa lonceng tersebut. Tidak jauh jalan dari Kappa Bridge, sekali lagi mata saya dibuat kagum oleh pemandangan yang saya lihat. Kali ini dengan gagahnya Gunung Oku Hotaka menjulang tinggi di depan saya. Dari titik ini kita dapat melihat Oku Hotaka yang dapat dibilang tandus, diapit oleh dua bukit rimbun dengan warna daun di pohon yang sudah menunjukan perubahan warna. Sungguh suatu perpaduan kontras yang indah.

pic 6

Perjalanan di lanjutkan menuju Miyojin bridge. Dari Kappa Bridge menuju Miyojin Bridge, sering kali kita menjumpai gerombolan kera. Alhamdulillah bukan segerombolan beruang. Mungkin karena pengaruh image buruk kera di Indonesia, yang mana suka mencuri kacamata, handphone atau barang-barang berharga lain nya, secara refleks saya menjadi overprotektif terhadap barang bawaan. Tetapi ternyata kera-kera di sini cukup well behaved. Mereka juga tidak agresif dan lebih sibuk “asyik” sendiri dengan gerombolanya. Satu hal yang harus diingat, jangan pernah menatap mata kera-kera tersebut terlalu lama apabila tidak mau paling tidak dilempar kotoran kera atau seburuk-buruknya digigit dengan risiko tertular rabies. Amannya, anggap saja saudara se-ordo ini tidak ada.

Sampai Tokusawa tak henti-hentinya saya terpana dengan pemandangan indah selama perjalanan. Buat saya, kamera tidak mampu untuk menangkap keindahan alam Kamikochi. Walaupun bisa jadi karena kamera saya yang kualitas nya buruk atau skill fotografi saya yang payah. Sesampainya di Tokusawa, saya memutuskan untuk istirahat makan siang. Di sini merupakan tempat yang paling cocok untuk beristirahat karena air bersih gratis dan toilet tersedia, sehingga kita dapat mencuci peralatan makan. 

Tokusawa-Karasawa

 Perjalanan dari Tokusawa menuju Karasawa ditempuh dalam 2-3 jam. Pada segmen ini lah jalan mulai menanjak sehingga cukup menguras tenaga. Suasana tanjakan dimulai dengan hutan rimbun berwarna hijau. Sekali-sekali, pohon berdaun hijau kekuningan dapat terlihat mengelempok.

Situasi awal tanjakan dimana  pohon-pohon berdaun kekuningan berkelompok ditengah-tengah hutan rimbun berwarna hijau.

Situasi awal tanjakan dimana pohon-pohon berdaun kekuningan berkelompok ditengah-tengah hutan rimbun berwarna hijau.

Kemudian sekitar 1 jam perjalanan seiring dengan peningkatan elevasi, area dengan pepohonan tandus mulai tampak. Dari kejauhan, puncak Oku Hotaka dari sisi belakang dimana permukaannya tertutup salju mulai dapat dilihat, artinya Karasawa sudah tidak jauh lagi. Walaupun demikian, bersiaplah dengan tanjakan yang semakin terjal.

Pemandangan puncak Oku Hotaka yang tertutup salju

Pemandangan puncak Oku Hotaka yang tertutup salju

Mendaki gunung di Jepang untuk seumuran saya (27 tahun ketika itu) kadang menjadi suatu dilema. Ketika sedang ngos-ngosan meniti jalan menuju puncak, disusul oleh kakek-kakek berusia 60-an bukanlah suatu pengalaman yang menyenangkan dan parahnya hal ini tidak jarang terjadi. Tentu saja disusul oleh hiker lansia sangat menjatuhkan kepercayaan diri. Menyusul sembari berucap “Konnichiwa!” dengan semangat, buat saya yang insekuritasnya agak tinggi ini terdengar seperti “duluan ye! Nenek gue kalau masih hidup jalannya masih lebih cepat dari situ!!”. Namun di sisi lain, saya sangat kagum dengan kondisi fisik para warga senior Jepang. Ingin sekali rasanya nanti di hari tua kebugarannya sama seperti para veteran itu.

Karasawa, Puncak Emas.

Sekitar pukul 4 sore saya tiba di Karasawa. Sebelum sampai, saya sempat cemas apakah ada hiker lain akan bermalam di Karasawa. Maklum, lokasi Karasawa ini berada di tengah-tengah cekungan Oku Hokata sehingga kalau saya hanya sendiri yang bermalam di sana, cukup menakutkan juga. Ketika sampai, melihat banyak hikers mendirikan tenda dan juga ternyata ada penginapan sejenis lodge, kecemasan saya lenyap seketika. Saya mencoba mengobrol, ternyata banyak orang ingin bermalam disini, karena di pagi hari mereka ingin melihatan pemandangan puncak Oku Hotaka yang berwarna emas karena disinari matahari pagi. Mendengar hal tersebut seperti bonus buat saya, karena jujur saya tidak tahu perihal puncak emas ini.

Karasawa

Karasawa

Pukul 5 sore, suhu udara terjujun bebas mendekati 0o celsius, saya bergegas mendirikan tenda dan menyusun sleeping bag. Segera saya siapkan makan malam di luar tenda. Saat itu malam sedang berada dalam periode bulan mati sehingga agak sedikit lebih gelap dari biasanya. Ketika menunggu air mendidih, saya sedikit dongakkan kepala ke arah atas dan alangkah terkejutnya saya saat melihat milyaran bintang di langit. Sungguh luar biasa indah. Pemandangan seperti ini tidak akan dapat dilihat buat kita yang tinggal di kota besar. Hal ini dikarenakan polusi cahaya membuat cahaya bintang yang relatif lebih lebih lemah tersarukan oleh pencahayaan artifisial perkotaan yang relatif lebih kuat. Karena di Karasawa sama sekali tidak ada pencahayaan artifisial, milyaran bintang dan bahkan garis milky way dapat dengan jelas terlihat. Sebuah keindahan yang membuat kita berkontemplasi apakah kita benar-benar sendiri di jagat semesta ini? Sayang, kamera saya terlalu payah buat mengabadikan pemandangan berharga ini. Karena mulai terasa dingin, saya memutuskan untuk bergegas ke tenda. Sebelum masuk ke tenda saya bergumam “why stay at an overpriced 5 stars hotel when you can stay at a 5 billion stars hotel for free?”.

Dan kemudian, cobaan pun datang mengahampiri. Suhu udara terjun bebas mendekati -50 dan saya hampir membeku di dalam tenda. Menjadi suatu pelajaran berharga bahwa matras adalah hal yang penting dalam bertenda dan kualitas serta spesifikasi sleeping bag adalah sangat penting untuk hiking di negara sub-tropis. Sebelum trip ini, saya membeli sleeping bag secara on-line seharga 1,000 yen. Bagi saya yang pemula dan tumbuh di negara tropis (dan miskin) ini, suhu minimal yang dapat diterima oleh sebuah sleeping bag bukan menjadi bahan pertimbangan dalam membeli. Celakanya produk yang saya bawa ternyata hanya tahan sampai 15o celsius, sehingga kalau dipakai di Karasawa ini, tubuh sudah dipastikan akan tersiksa dan membeku. Malam itu adalah salah satu malam terburuk buat saya. Sampai jam 12 malam saya tidak bisa tidur karena kedinginan. Setelah jam 12 pun, hanya bisa tidur satu–dua jam dan terbangun karena angin dingin bertiup dari puncak Oku Hotaka. Mungkin selain malam terburuk, saat itu juga merupakan malam terlama dalam hidup saya. Dalam kondisi yang amat sangat menyiksa itu, imajinasi berbentuk Donald Trump, pemilik jaringan hotel internasional berbintang Hyatt, datang menghampiri saya, “Because we, overpriced 5 stars hotels, provide you room heater! Suck it up loser! Mwahahaha

 Dengan susah payah, alhamdulillah saya dapat bertahan hidup sampai ke-esokan hari. Pada pukul 6 pagi, orang-orang sudah mulai keluar dari tenda masing-masing. Tidak perduli suhu udara yang masih dibawah 00 celsius, saya beranjak dari sleeping bag dan keluar dari tenda. Ternyata memang benar, puncak Oku Hotaka berwarna emas langsung menyambut dari luar tenda. Benar-benar speechless saya dibuatnya. Meminjam kata-kata Tukul Arwana, “amazing..amazing..amazing”, adalah ekspresi tepat yang menggambarkan apa yang dilihat saya ketika itu. Pengalaman buruk saya semalam pun dalam sekejap terlupakan.

 

Puncak emas Oku Hotaka

Puncak emas Oku Hotaka

Puncak emas Oku Hotaka (2)

Puncak emas Oku Hotaka (2)

Campur aduknya perasaan saya saat melihat puncak emas Oku Hotaka ini seperti sebuah klimaks dalam sebuah film. Dimulai dari perasaan gembira dan semangat saat memulai perjalanan disapa dengan pemandangan-pemandangan indah, rasa lelah di tengah jalan terutama saat mulai menanjak, rasa kagum dengan taburan milyaran bintang di langit, perasaan tersiksa karena ganasnya suhu udara Karasawa di malam hari dan akhirnya keindahan puncak Oku Hotaka berbalut emas adalah suatu klimaks yang indah di perjalanan kali itu.

Setelah selesai menikmati pemandangan luar biasa ini, karena berencana untuk tiba di Kyoto lagi pada hari itu juga, saya segera bergegas membereskan tenda dan perlengkapan lainnya. Tepat pukul 7:30, saya memulai perjalanan pulang dan sekitar pukul 13:00 saya sudah tiba di Kamikochi Bus Terminal. Sebelum naik bus menuju Kyoto pada pukul 16:25, saya singgah dulu di Hirayu Onsen untuk menikmati berendam air panas dan memulihkan energi. Onsen memang sebuah penutup sempurna untuk perjalanan yang menantang dan mengesankan. Perjalanan ke Kamikochi merupakan pembuka yang sempurna dari five top hikings area in Japan. Cheers!

cheers!

cheers!

Categories
Wisata
Adhiraga

Former doctoral student of Environmental Engineering Kyoto University

RELATED BY