Desain Lanskap Kawasan Sempadan Sungai Perkotaan: Amenitas dan Mitigasi Bencana

KAWASAN sempadan sungai di Indonesia, terutama di perkotaan, adalah kawasan yang terkenal dengan permukimannya yang padat, bahkan cenderung kumuh. Kondisi ini menyebabkan banyak masalah, baik masalah lingkungan maupun sosial....
kamogawa-01

KAWASAN sempadan sungai di Indonesia, terutama di perkotaan, adalah kawasan yang terkenal dengan permukimannya yang padat, bahkan cenderung kumuh. Kondisi ini menyebabkan banyak masalah, baik masalah lingkungan maupun sosial. Masalah banjir, yang seharusnya normal karena sungai pada waktu-waktu tertentu mempunyai periode banjir, menjadi bencana karena banjir tersebut berdampak pada kehidupan manusia yang tinggal di sekitarnya.

Desain lanskap kawasan sempadan sungai sebaiknya mampu menjadi penghubung antara aktivitas alami sungai dan kebutuhan aktivitas manusia. Desain kawasan sempadan sungai sebaiknya lebih dari sekedar mempercantik tampilannya (beautification), akan tetapi juga memiliki fungsi-fungsi lainnya. Gardiner dan Cole (1991) menguraikan bahwa kawasan sempadan sungai memiliki peran sebagai zona penyangga yang berfungsi membantu untuk mengontrol banjir dan erosi, menjernihkan air dan mengisi ulang suplai air tanah dan memiliki nilai rekreasi dan keindahan.

Menegaskan garis sempadan sungai

Garis sempadan sungai diatur dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Permen PU) Nomor 28 Tahun 2015, untuk sungai bertanggul pada kawasan perkotaan yaitu paling sedikit berjarak 3  meter dari tepi luar kaki tanggul sepanjang alur sungai.

Namun pada kenyataannya, apakah garis sempadan tersebut ditaati? Bahkan ada rumah penduduk yang masuk dalam garis sempadan, dan bersertifikat. Masalah penegasan garis sempadan ini bisa jadi sangat sensitif dan bukan favorit bagi para pembuat kebijakan. Karena, seperti yang telah kita ketahui bersama, di dalam garis sempadan sudah terlanjur padat permukiman, sehingga isu ini rawan sekali dipolitisasi.

Garis sempadan itu dimana dan diukur dari mana?

Penentuan garis sempadan idealnya mempertimbangkan juga aspek kebencanaan, salah satunya garis sempadan diukur dari batas banjir sungai. Yaitu garis terjauh area terdampak banjir reguler. Hal ini dapat dilihat dari Peta Resiko Bencana secara time series. Misalnya, jika setiap tahun terjadi banjir, maka dapat dilihat sejauh mana area yang terendam banjir dari tahun ke tahun, maka itu adalah batas banjir. Dan sebaiknya, minimal pada batas banjir tersebut dibangun tanggul dengan ketinggian yang disesuaikan dengan ketinggian banjir rata-rata. Lalu, garis sempadan diukur dari tanggul tersebut.

Konsep tanggul yang dikenal masyarakat terkadang terjadi salah arti dengan talud. Tanggul (levee) berfungsi untuk mencegah luapan air, sedangkan talud (revetment) memiliki fungsi untuk mencegah erosi. Posisi talud berada di badan sungai yang rawan terkena erosi, sedangkan tanggul, minimal berada pada batas banjir. Yang terjadi secara tipikal di perkotaan di Indonesia, tanggul merupakan kepanjangan (extended) dari talud, tanpa mempertimbangkan kapasitas sungainya. Ketika terjadi banjir, air tetap saja meluap dan tanggul tersebut ambrol.

Lalu apa manfaat dari menegaskan garis sempadan?

Menegaskan garis sempadan merupakan salah satu usaha untuk memberikan ruang gerak bagi air dengan segala dinamikanya. Dalam hal ini, banjir sungai (river flood) merupakan hal yang alami. Namun sekali lagi, yang menjadi masalah adalah jika hal yang alami ini berdampak pada manusia. Dengan memberikan ruang gerak yang lebih leluasa bagi air tersebut, maka resiko dinamika air yang menimbulkan bencana bagi manusia dapat diminimalisir.

3M (mundur, munggah, madhep kali)

Seperti yang telah disebutkan di awal, masalah permukiman menjadi salah satu yang paling vital dalam penataan kawasan sempadan sungai. Saat ini, terdapat Konsep 3M (Mundu, Munggah, Madhep kali) yang digagas oleh para penggiat penataan sungai.

  • Mundur. Sesuai dengan garis sempadan, sehingga dapat memberikan ruang bagi air dengan segala dinamikanya, dan juga ekosistem alami di dalamnya.
  • Munggah. Permukiman yang padat secara horizontal diubah menjadi vertikal. Dengan demikian lahan yang digunakan untuk bangunan berkurang kepadatannya dan dapat dimanfaatkan sebagai ruang terbuka hijau.
  • Madhep kali. Seringkali sungai menjadi halaman belakang (backyard). Dengan paradigma seperti ini, kepedulian masyarakat terhadap sungai menjadi berkurang atau bahkan hilang. Menjadikan sungai sebagai halaman depan diharapkan mampu mengubah paradigma tersebut sehingga dapat meningkatkan kepedulian dan rasa tanggung jawab atas sungai.

Peran desain lanskap

Sungai pada dasarnya adalah milik publik, tidak hanya dibutuhkan oleh air, flora dan fauna, dan penduduk yang tinggal di bantaran sungai saja, akan tetapi semuanya. Semua berhak beraktivitas di kawasan sungai, tentunya dengan batasan-batasan yang tidak merusak. Oleh karena itu diperlukan desain yang mampu mengakomodasi baik aktivitas alami maupun aktivitas manusia.

Mempertimbangkan resiko bencana pada kawasan sempadan sungai, desain lanskap kawasan sungai sebaiknya juga mencakup tidak hanya fungsi amenitas tetapi juga mitigasi bencana.

Amenitas

Siapa yang tidak terpesona pada keindahan.  Memandang aliran air sungai dan mendengarkan gemericiknya. Atau membiarkan anak-anak bermain di ‘kali’ sambil menangkap ‘cethul’. Mungkin saat ini hal tersebut kebanyakan hanya dapat dijumpai di tepian sungai pedesaan, atau di cerita-cerita masa kecil orang tua kita dulu.

Meningkatkan amenitas pada kawasan sempadan sungai, tidak hanya sekedar memperindah penampakan, akan tetapi juga menambahkan fungsi-fungsi lainnya, antara lain:

a) Akses
Kawasan sempadan sungai yang dipadati oleh permukiman penduduk membuat kawasan ini seakan-akan “diprivatisasi” oleh penduduk, sehingga orang-orang yang tidak tinggal di kawasan tersebut tidak dapat atau enggan untuk berkunjung. Padahal, kawasan sempadan sungai sebagai public space seharusnya dapat diakses oleh semua orang. Memberikan ruang yang mudah, aman dan nyaman bagi pejalan kaki dan sepeda, paling tidak, merupakan salah satu langkah agar kawasan sempadan sungai dapat diakses oleh semua orang.

b) Menciptakan hubungan dengan air
Pidwill (1993) menyatakan bahwa perencanaan kawasan, lanskap dan arsitektur di kawasan sempadan sungai harus dapat menciptakan hubungan dengan air. Menciptakan hubungan dengan air dapat dikreasi melalui kegiatan bermain air atau dekat dengan air, maupun sekedar duduk-duduk di tepi sungai. Aktivitas tersebut secara tidak langsung dapat menumbuhkan rasa memiliki dan tanggungjawab terhadap sungai, sehingga timbul keinginan dan usaha untuk menjaga kelestarian sungai.

Meminimalisir penggunaan pagar, membuat tangga dari daratan ke air atau membuat pijakan pada badan sungai juga merupakan salah satu cara membuat akses langsung dengan air sungai. Namun perlu juga diperhatikan karakter sungainya, jika dirasa membahayakan, penggunaan pagar dapat dipertimbangkan.

c) Mewadahi berbagai aktivitas
Sebagai ruang terbuka publik, kawasan sempadan sungai juga harus dapat mewadahi berbagai macam aktivitas, baik dilakukan oleh orang tua, muda, maupun anak-anak. Mulai dari sekedar berjalan-jalan, duduk-duduk, kegiatan olahraga, bermain, belajar, atau melepas lelah.

Ruang publik yang dapat mewadahi berbagai aktivitas sangat berpotensi untuk menjadi atraksi wisata, yaitu menarik pengunjung yang tidak hanya warga kota saja, tetapi juga warga dari kota lain. Sebagai contoh Teras Cikapundung  yang saat ini menjadi salah satu magnet wisata di Kota Bandung. Tentunya, dengan adanya pengunjung, maka dapat bermanfaat menunjang kegiatan ekonomi di kawasan sekitarnya.

d) Berbagi habitat dengan makhluk hidup lainnya
Air merupakan sumber kehidupan, sehingga perlu disadari bahwa tidak hanya manusia saja yang membutuhkan sungai, akan tetapi juga makhluk hidup lainnya yaitu flora dan fauna.  Keseimbangan ekosistem alami yang terjaga akan lebih menjamin kehidupan manusia di masa depan.

e) Elemen-elemen pendukung (furniture)
Furniture merupakan elemen  dalam ruang publik yang memiliki peran sebagai pendukung aktivitas, antara lain tempat duduk, tempat membuang sampah, penerangan, fasilitas bermain anak-anak atau bahkan landmark. Elemen pendukung ini sebaiknya terbuat dari material yang tahan terhadap banjir dan mampu mentolerir perendaman sementara, sehingga jika sungai diterjang banjir, furniture tersebut tidak ikut hanyut ataupun lapuk akibat perendaman.

Mitigasi bencana

Aspek mitigasi bencana dalam desain lanskap kawasan sempadan sungai sangat penting, terutama bagi sungai-sungai yang secara historis sering terdampak bencana, seperti banjir.
Banjir merupakan salah satu jenis bencana yang dapat diprediksi, walaupun ada pula yang terjadi di luar prediksi, sehingga korban jiwa dapat diminimalisir melalui sistem peringatan dini (early warning system, EWS). Namun, tetap ada kerugian materiil akibat aliran banjir atau perendaman. Karena korban jiwa yang dapat diminimalisir inilah terkadang urgensi resiko bencana banjir sering diabaikan oleh masyarakat, dengan dalih “sudah terbiasa”. Padahal masyarakat yang tinggal di sempadan sungai sangat rentan jika terjadi bencana. Sehingga, penyelesaian masalah permukiman di tepian sungai ini sebaiknya menjadi prioritas dalam penataan kawasan sungai.

Ke depannya, pembangunan kawasan sempadan sungai diarahkan untuk menjadi ruang terbuka hijau (RTH) yang tidak hanya memiliki fungsi amenitas seperti yang dijelaskan diatas, tetapi juga memiliki fungsi perlindungan dari banjir dan erosi.

Prominski et al (2012) menyebutkan, ada beberapa kriteria desain dataran banjir, antara lain:

  • Mampu menahan tekanan air banjir dan mentolerir perendaman sementara.
  • Penggunaan sementara (fasilitas olahraga,taman bermain dan perkemahan, festival, dll) harus dapat mentolerir ketinggian air banjir.
  • Material/bahan yang dipilih harus dapat menahan banjir untuk jangka panjang.
  • Elemen-elemen yang tidak dapat menahan banjir harus dihilangkan.

Dengan mempertimbangkan kriteria diatas, berikut merupakan beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan dalam merencanakan desain kawasan sempadan sungai berbasis mitigasi bencana:

a) Mengembalikan kondisi alami sungai
Desain kawasan sempadan sungai sebaiknya sebisa mungkin mengembalikan sungai ke kondisi alaminya (natural state), yaitu kembali ke morfologi alami yang sesuai dengan prinsip ekologi (mengutip diskusi dengan Bapak Dr. Ir. Agus Maryono, Dosen Teknik Sipil UGM). Dengan mengembalikan sungai ke kondisi alaminya, maka dapat menyelesaikan beberapa permasalahan sungai seperti banjir maupun polusi.Hal ini dapat diupayakan melalui melalui upaya restorasi hidrologi, ekologi, morfologi, sosial ekonomi, serta kelembagaan dan peraturan.

Berangkat dari kondisi alami, kawasan sempadan sungai dapat dikembangkan menjadi ruang publik tanpa terlalu banyak pembangunan infrastruktur maupun elemen pendukung (furniture). Justru kegiatan/aktivitas itu sendiri dapat tercipta dari kondisi alami. Contohnya Bishan Park di Singapura atau Itabitsugawa di Jepang.

Atelier-Dreiseitl-Bishan-Park-1 mizbePhoyoKyushu3

Bishan Park (atas) dan Itabitsugawa (bawah)

b) Kawasan sempadan dan ketahanan infrastruktur pendukungnya
Telah dijelaskan di atas mengenai kawasan sempadan yang ideal, yaitu yang mampu mengakomodasi air beserta dinamikanya sehingga dapat meminimalisir dampak terhadap kehidupan manusia. Masalah permukiman menjadi masalah utama yang sebaiknya menjadi prioritas untuk diselesaikan. Selain itu, infrastruktur pendukung, dalam hal ini infrastruktur sungai seperti tanggul, talud, jembatan dan lain-lain, harus memiliki kualitas yang baik dengan perencanaan yang matang dan tahan terhadap ancaman bencana, terutama banjir. Dengan demikian infrastruktur yang dibangun dengan biaya besar tidak lantas hanyut atau rusak akibat banjir.

Tidak hanya banjir, ancaman bencana lain seperti kebakaran atau keadaan darurat (emergency) perlu dipertimbangkan. Oleh karena itu, aksesibilitas juga menjadi elemen penting pada kawasan sempadan sungai. Dengan akses yang memadai, ketika dibutuhkan, maka kawasantersebut dapat dijangkau oleh ambulance, pemadam kebakaran atau alat-alat berat.

c) Aktivitas
Aktivitas atau penggunakan kawasan sempadan sungai diarahkan ke kegiatan yang bersifat sementara, bukan sebagai ruang untuk tempat tinggal untuk mengurangi dampak jika terjadi banjir, baik korban jiwa maupun kerugian materiil. Selain itu juga untuk memudahkan evakuasi jika terjadi bencana.

d) Penggunaan bahan/material
Penggunaan bahan/material, terutama pada elemen pendukung (furniture) harus dipilih yang dapat menahan banjir dalam jangka panjang. Selain itu, konstruksi bentuk yang kokoh juga penting agar ketika terjadi tidak hanyut yang nantinya malah berpotensi merusak infrastruktur lainnya seperti jembatan atau tanggul.

e) Biaya perawatan rendah
Kawasan sempadan sungai sebagai ruang publik dan ruang terbuka hijau sebaiknya tidak dibangun dengan infrastruktur maupun furniture yang memerlukan biaya perawatan (maintenance) tinggi, karena keberlanjutan (sustainability) lebih penting dijamin daripada sekedar membangun. Keberlanjutan dalam hal ini adalah fungsi-fungsi yang telah dibangun dapat bertahan lama. Ruang terbuka, contohnya taman, yang dibangun tanpa mempertimbangkan biaya perawatan nantinya hanya akan meninggalkan “monumen”. Karena seiring dengan menurunnya performa infrastruktur akibat kurangnya perawatan, maka intensitas kunjungan atau pemakaian juga akan menurun yang menyebabkan nilai (value) ruang tersebut menjadi tidak berarti atau hilang. Hal ini tentunya merupakan pemborosan.

Sungai adalah milik kita bersama, sudah menjadi tanggung jawab kita untuk menjaga kelestariannya. Dengan demikian, kita sendiri yang akan merasakan manfaatnya.

 

Atrida Hadianti
Mahasiswa Program Doktoral
Laboratory of Urban and Landscape Design
Kyoto University – Japan

Referensi

Gardiner, J.L., Cole, L. (1991) Catchment Planning: The way forward for river protection. In Boon, P.(ed.), Proceeding of the International Conference on the Conservation and Management of Rivers. English Nature, York (in press).

Pidwill, S. (1993) Salford Quays 3: the urban design and its relationship with that of other waterside initiatives. In White, K. N. (ed.), Urban Waterside Regeneration: problems and prospects. England: Ellis Horwood Limited.

Prominski, M., Stokman, A., Zeller, S., Stimberg, D., & Voermanek, H. (2012). River. Space. Design. German National Library.

 

Categories
OpiniPengetahuan Umum

a pink cat who loves traveling, cooking, cats and kids Doctoral student Urban and Landscape Design Laboratory Kyoto University

RELATED BY

  • Riset PPI Kyoto Shiga #1 Hendy Setiawan – Dinamika Longsor

    Selamat memasuki semester baru ditahun 2017, semoga semester ini berjalan dengan lancar dan baik sehingga kemajuan studinya sesuai dengan rencana awal. Melalui pesan singkat ini, saya ingin menyampaikan bahwa...
  • sky-02

    Aurora

    KONON menurut para sesepuh yang meneliti lapisan ionosfer, fenomena alam di atmosfer atas yang pertama kali teramati adalah aurora. Itu lho munculnya sinar warna-warni yang bentuknya macam-macam. Ada yang...
  • sky-01

    Benarkah Ionosfer dapat digunakan untuk membuat gempa buatan?

    SETIAP kali terjadi gempa, terutama gempa-gempa besar, selalu ada sisi lain media massa yang menghubungkannya dengan modifikasi cuaca antariksa yang dibuat oleh proyek HAARP (High Frequency Active Auroral Research...
  • science-and-society-1024x663

    Pengetahuan dan kemanfaatan ilmu

    DALAM satu pekan di awal maret 2016, saya berkesempatan mengikuti HOPE Meeting, sebuah forum ilmiah yang diselenggarakan Japan Society for the Promotion of Science (JSPS). Forum ini mempertemukan para...