Aurora

KONON menurut para sesepuh yang meneliti lapisan ionosfer, fenomena alam di atmosfer atas yang pertama kali teramati adalah aurora. Itu lho munculnya sinar warna-warni yang bentuknya macam-macam. Ada yang...

KONON menurut para sesepuh yang meneliti lapisan ionosfer, fenomena alam di atmosfer atas yang pertama kali teramati adalah aurora. Itu lho munculnya sinar warna-warni yang bentuknya macam-macam. Ada yang lengkung, garis, seperti lembaran, dll., yang terlihat pada malam hari di angkasa. Menurut legenda-legenda Yunani dan Cina, aurora itu dianggap sebagai penampakan dari dewa/penguasa alam semesta. Walaupun penghuni daerah lintang tengah dan rendah seperti kita ini tidak akan bisa mengamati fenomena ini, tidak ada salahnya kita mengenal si aurora, siapa tahu suatu saat kita bisa sowan ke negara-negara langganan aurora yang lokasinya lebih dekat ke wilayah kutub seperti Norwegia, Swedia, Islandia, Canada, Skotlandia, dan Finlandia.

Aurora sendiri sebenarnya sudah bikin penasaran orang sejak tahun 1500-an. Beberapa teori tentang aurora diberikan oleh beberapa ahli. Edmund Halley yang sukses memprediksi kemunculan komet pernah memberi teori bahwa aurora itu uap air encer yang tersublimasi oleh pemanasan yang dengannya terkandung juga sulfur yang akan menghasilkan kilauan sinar warna-warni di atmosfer. Tahun 1746, Leonard Euler (Swiss) menyatakan bahwa aurora adalah partikel dari atmosfer bumi yang melampaui ambang batasnya akibat cahaya matahari dan selanjutnya naik ke ketinggian beberapa ribu mil. Di daerah kutub partikel-partikel ini tidak akan terdispersi akibat perputaran bumi. Orang ketiga yang berusaha menjelaskan tentang aurora adalah Benjamin Franklin. Pak Benjamin mengatakan bahwa aurora berkaitan dengan sirkulasi di atmosfer. Lebih lanjut Pak Ben menjelaskan bahwa atmosfer di daerah kutub lebih tebal/berat dan lebih rendah dibandingkan dengan di daerah ekuator karena gaya sentrifugalnya (gaya akibat rotasi) lebih kecil. Elektrisitas yang dibawa awan ke daerah kutub tidak akan dapat menembus es sehingga akan terputus melewati atmosfer bawah kemudian ruang hampa menuju ke ekuator. Elektrisitas akan kelihatan lebih kuat di daerah lintang tinggi dan sebaliknya di lintang rendah. Hal itulah yang akan tampak sebagai Aurora Borealis.

Sebenarnya selama 150 tahun terakhir banyak teori lain tentang aurora ini, antara lain bahwa aurora terjadi karena pemantulan sinar matahari oleh partikel-partikel es, pemantulan sinar matahari oleh awan, uap air yang mengandung sulfur, pembakaran udara yang mudah terbakar, pancaran partikel magnetik, debu meteor yang terbakar akibat gesekan dengan atmosfer, thunderstorm, listrik yang timbul antara dua kutub magnet bumi, dll.

Sekitar tahun 1800-an karakteristik aurora mulai diketahui. Seorang ilmuwan Inggris bernama Cavendish berhasil menghitung ketinggian aurora yaitu antara 52 s.d 71 mil (83 km s.d 113,6 km). Tahun 1852 diketahui bahwa ada hubungan antara aktivitas geomagnet, aurora, dan bintik matahari (sunspot), dimana frekuensi dan amplitudo ketiganya berfluktuasi dengan periode yang hampir sama, yaitu 11 tahunan. Tahun 1860, Elias Loomis berhasil membuat diagram yang menunjukkan daerah dengan kejadian aurora paling banyak. Dari temuannya itu diketahui bahwa ternyata aurora berhubungan dengan medan magnet bumi. Angstrom, seorang ilmuwan Swedia, pada tahun 1867 berhasil melakukan pengukuran spektrum-spectrum dari aurora.

Penelitian tentang aurora semakin menemukan titik terang ketika seorang fisikawan Inggris J.J. Thomson berhasil menemukan elektron, dan fisikawan Swedia Kristian Birkeland menyatakan bahwa aurora disebabkan oleh sinar dari elektron yang diemisikan matahari. Ketika elektron-elektron itu sampai ke bumi akan dipengaruhi oleh medan magnet bumi, dan terbawa ke daerah lintang tinggi dan terjadilah aurora. Begitulah hasil-hasil penelitian menjelaskan bagaimana si aurora terjadi. Lumayan banyak ya teori yang menjelaskan mekanisme aurora terbentuk. Nggak usah terlalu dipikir yang itu, nikmati saja keindahannya dan temukan cara bagaimana suatu saat Allah memberi kesempatan kita melihatnya.
(Courtesy: science.nasa.gov ; Robert W.Schunk and Andrew F. Nagy)

 

Dyah Rahayu Martiningrum

Peneliti LAPAN
Saat ini sedang menempuh program doktoral di Graduate School of Informatics, Kyoto University.
juga berafiliasi di Research Institute for Sustainable Humanosphere (RISH), Kyoto University.
Categories
OpiniPengetahuan UmumSains

Istri, Ibu yg sdg nyantrik di Radar Atmospheric Science Dept. Informatics Faculty Computer and Communication Engineering Kyoto University

RELATED BY