SAYA menggangguk dia menggangguk. Kami memberi salam sugeng enjing mereka mengulur salam ohayo gozaimashu. Saya bilang permisi nyuwun sewu dia mengiyakan hai’, douzo. Kami minta jalan nderek langkungmereka segera memberi jalan. Kami minta maaf nyuwun ngapunten mereka menghamburkan keikhlasan dan bilangah, daijobu desu yo.
Penyampaian salam terkait waktu, sikap dan intonasi yang sama tetapi dengan pengucapan yang berbeda. Saya menemukan kejawaan di sini. Hangat, guyub dan mengesankan dunia baik-baik saja. Apakah hanya itu persamaan antara kota Jogja dan Kyoto? Tentu saja masih banyak, sebutlah lingkungan, arsitektur, sejarah, perangai masyarakatnya sampai wisata kulinernya. Maka dapat dipahami ketika kedua pemerintahan kota tersebut sepakat menjalin kerjasama kebersamaan dalam membangun dan merawat kotanya melalui program sister province.
Kota bersaudara atau kota kembar (sister city, twin cities, sister province) adalah konsep persahabatan dua kota yang berbeda lokasi, administrasi dan politik dengan tujuan menjalin hubungan kebudayaan dan kontak sosial antarpenduduk.
Kembaran kota memiliki persamaan lingkungan, demografi dan masalah-masalah yang dihadapi. Konsep kota kembar bisa diumpamakan sebagai sahabat pena antara dua kota. Hubungan kota kembar sangat bermanfaat bagi program pertukaran budaya dan kerjasama di bidang sosial dan ekonomi.
Tak salah memang julukan Jogja sebagai kota pelajar, sehingga pemerintah propinsi pun tak mau kalah untuk turut serta belajar dari Kyoto (Kompas Jogja, 21/10/2010). Seperti Jogja di Kyoto pun banyak pengguna sepeda dan fasilitas pendukungnya. Namun seperti apakah program penyiapan masyarakat bersepeda? Sekedar melalui gerakan Sego Segawe, kegiatan sepeda gembira dengan hadiah motor, kongkow dan konvoi sepeda di seputaran Malioboro atau semata mendirikan rambu-rambu sepeda?
Pengenalan sepeda dilakukan sejak dini semasa masih anak seumuran TK oleh keluarga Kyoto, seperti di Jogja pembelajaran bersepeda didampingi oleh orang tuanya masing-masing. Ketika sudah bisa bersepeda, anak-anak ini tidak boleh berkayuh sepeda sendiri tanpa bimbingan orang tua, apalagi di jalan besar. Biasanya mereka main sepeda di jalan-jalan perumahan atau taman-taman (koen) yang tersebar di setiap blok perumahan. Ah, jadi teringat program pemerintah kota Yogyakarta tentang pengadaan ruang publik di setiap kelurahan.
Tatkala SD, oleh sekolah yang bekerjasama dengan kantor polisi lokal (setingkat mapolsek) mengadakan ujian bersepeda. Bagi yang lulus, mereka mendapat semacam SIM (surat ijin mengayuh) sepeda. Maka resmilah anak-anak ini bersepeda di jalan, setelah mendapat wejangan dan instruksi praktik dari sekolah dan polsek. Sebenarnya bukan ujian atau SIM-nya yang penting, tetapi lebih kepada kesadaran adanya peraturan bersepeda dan perhatian sekolah dan representasi pemerintah (kepolisian) kepada anak-anaklah yang utama.
Bisa dilihat di jalanan Kyoto, anak-anak yang bersepeda pasti dengan keluarganya atau dengan teman-teman berombongan. Satu dan lain hal untuk keamanan dan keselamatan pribadi dan pengguna jalan lain.
Dengan banyaknya obyek wisata dan universitas, kota Kyoto menjadi favorit bagi wisman dan pelajar asing. Keberadaan mereka membawa budaya masing-masing yang cenderung mempengaruhi kebiasaan masyarakat setempat yang relatif tertib, sopan dan bersahaja dalam bersepeda. Misalnya, kepatuhan menunggu lampu hijau di traffic light, mendahulukan pejalan kaki, parkir pada tempatnya dan prosedur pembuangan bangkai sepeda. Hal ini disadari benar oleh pemerintah Kyoto dengan mengadakan penyuluhan safety riding di masing-masing universitas setiap tahun ajaran baru (April dan Oktober). Bersama instruktur yang ramah nan enerjik, penyuluhan ini disampaikan bilingual (Jepang dan Inggris) dilengkapi dengan brosur dan buku panduan bersepeda, sehingga tidak terkesan menggurui dan tak membosankan. Di setiap kecamatan pun diadakan kegiatan ini secara reguler dengan undangan door to door untuk warga Kyoto dan pendatang.
Untuk urusan bersepeda, Jogja tidak harus berguru pada Copenhagen yang mempunyai jalur khusus sepeda sepanjang puluhan km. Jogja cukup berguru pada Kyoto saja. Seperti Jogja, Kyoto tidak mempunyai jalur khusus sepeda. Sepeda, motor, mobil dan bus merayakan kemerdekaan ruang publik secara bersama pada satu area, namun beda lajur. Masing-masing moda transportasi patuh dan tertib berada pada lajurnya sendiri.
Jalur sepeda di Kyoto terhampar di trotoar, pedestrian, di atas selokan, atau dibadan jalan yang sudah dibatasi garis putih atau pal. Tidak adanya jalur khusus sepeda, mengakibatkan pesepeda melebur dengan pejalan kaki menikmati ruas pedestrian berjamaah. Peraturannya satu: utamakan pejalan kaki. Bila serombongan pejalan kaki berada didepan pesepeda, maka mereka akan mencari jalan lain, dan jika sangat terpaksa pesepeda akan membunyikan bel dengan diikuti kata sumimasen (maaf) untuk menyibak kabut pedestrian.
Mobil pasti berhenti ketika di zebra cross ada penyeberang jalan, sang pengemudi mengangguk ditimpali ucapan terima kasih-domo arigato dari si penyeberang, atau mobil selalu minggir jika berpapasan dengan sepeda. Sepeda acap menyapa pejalan kaki yang menghalangi jalannya, sambil mengucap sumimasen-permisi, dan sang pejalan kaki menimpali douzo-silakan.
Mungkin di Jogja masa lalu sebagai representasi Jawa, kejadian ini dapat kita temukan seketika. Sekarang tidak setiap waktu dan tempat atau harus masuk kepelosok desa nun jauh di mata, untuk bisa menikmati saling penghormatan ini.
Mungkin Jawa sudah terlalu cepat berubah atau barangkali Kyoto yang sangat lambat berjalan? Entahlah, walaupun Ja(v)anese dengan Ja(p)anese hanya berbeda huruf v dan p semata. Tetapi pengaruh iklim, geografi, budaya, gaya hidup dan sikap yang menempa orang-orang disini begitu Jawa.
Suatu saat bila peta dunia ini terlipat, dan jalan Maliobro bertemu dengan Karasuma-dori, maka warga Yogyakarta tidak akan merasakan perbedaan perilakunya dalam bersepeda. Mereka hanya bingung, akibat kekagumannya mereka berkata luar biasa dari mulutnya, namun yang terucap : sugoi! Provisiat 25 tahun Jogja-Kyoto Sister Province.
*Pendidik Arsitektur UII Yogya
Pembelajar S3 Universitas Kyoto



