Sambil menahan rasa sakit, kularikan mobil secepatnya ke rumah sakit. Ternyata rumah sakit yang kutuju jaraknya cukup jauh dari tempat kerjaku. Navigator menunjukkan baru satu jam kemudian akan sampai di rumah sakit itu. Sementara bagian perut dan dadaku sakit bukan kepalang.
“Anda harus dirawat!” Perintah dokter melihat hasil uji darah dan USG.
“Muri…”Jawabku. Terbayang ketiga anakku siapa yang akan mengurus kalau aku nyuuin sementara suamiku sedang di luar negeri.
“Kalau begitu besok pagi datang lagi untuk periksa darah!” Perintah dokter lagi.
“Besok pagi sampai siang aku mengajar di universitas. Kalau sore hari baru bisa.”
“Sebaiknya besok pagi, tapi kalau tidak bisa, apa boleh buat. Sore hari pun harus datang.”
“Baiklah.” Kuterima resep koseibushitsu dari tangannya.
Besok sorenya, kumasuki bangunan tua rumah sakit swasta yang tidak terlalu besar. Sepanjang lorong kulihat pasien-pasien yang duduk berderet menunggu giliran.
Rasa sakit di tubuhku sudah berkurang, tetapi masih ada. Biasanya rasa sakit itu akan tiba-tiba hilang dan aku sehat seperti sedia kala tanpa bekas. Namun kali ini, sudah hampir 24 jam sejak kemarin, rasa sakit masih bercokol di tubuhku.
“Mengapa tidak datang tadi pagi?” Tanya dokter yang berbeda dari kemarin.
“Sibuk.”
“Anda harus dioperasi untuk menghilangkan penyebab sakitnya.” Katanyanya menjelaskan.
“Saya tidak mau dioperasi, dilaser saja.” Kataku mengutarakan keinginanku sejak awal.
“Cara itu dulu ada tapi selama saya disini cara itu sudah ditinggalkan, karena tidak manjur.” Jelasnya.
“Kalau begitu saya ingin berbicara langsung dengan ahlinya.”
“Datang lagi saja besok, dia praktek pagi!” Dokter ahli bedah itu menyarankan agar aku menemui ahli tanseki.
Keesokanharinya aku bertemu dengan dokter ahli tanseki yang menurut informasi diinternet setiap tahun dia mengoperasi sekitar 200 pasien.
Sebelum berdialog dengan dokter, aku diharuskan melakukan uji darah dan USG lagi.
“Hasil uji darah anda bertambah buruk. Kelihatannya tanseki menutup saluran. Anda harus dioperasi segera! Operasi ini akan dilakukan oleh dokter penyakit dalam.”
“Saya tidak mau dioperasi sekarang, karena suami saya sedang di luar negeri.”
“Tolong hubungkan saya dengannya, saya ingin berbicara langsung!”
Maka kuhubungkan dokter ahli itu dengan suamiku yang sedang berada di belantara Sumatera. Atas kesepakatannya, aku dialihkan kedokter ahli penyakit dalam.
Dokter penyakit dalam yang menanganiku bersikeras untuk melakukan operasi hari itu. Tentu saja suamiku berkeberatan karena operasi pengeluaran tanseki dari saluran empedu merupakan operasi yang beresiko tinggi dan dapat berakibat terhadap organ-organ lain di dalam tubuh. Dia berjanji untuk segera kembali dan operasi akan dilakukan setelah dia kembali.
Walaupun demikian, aku tidak dapat menolak kemauan dokter. Hari itu juga aku harus dirawat.
Setelah membekali anak-anakku dengan uang dan makanan sampai suamiku kembali, mulailah aku menjalani hari-hari yang membosankan di rumah sakit. Karena makanan akan membahayakan kesehatanku, selama seminggu aku tidak diperbolehkan makan. Hanya tenteki yang menjadi andalan asupan gizi bagi tubuhku. Saluran darahku yang sempit, menyebabkan tusukan jarum infus berpindah-pindah dari tangan kiri ke kanan.
Untunglah teman-temanku dari perkumpulan isteri-isteri asing yang bersuamikan orang Jepang, datang menjenguk, mengirimkan bunga dan kartu-kartu penyemangat sehingga aku merasa terhibur. Walaupun kami berbeda bangsa, tapi kesetiakawanan mereka sangat berarti pada saat aku sakit di negeri orang.
Rasa syukur kupanjatkan kepada Allah, ternyata penundaan operasi saluran berakibat baik. Tanseki yang tersangkut di saluran empedu, hilang! Jadi aku tidak perlu dioperasi besar yang dapat berakibat buruk. Tetapi operasi penyebab sakit selama ini tentu saja harus dilakukan, walaupun bukan operasi pembukaan perut.
Tibalah hari yang menentukan. Akhirnya setelah kupertahankan agar tannouku tidak diambil, kurelakan pemberian Tuhanku yang telah berjasa selama ini menetralisir racun dan lemak untuk dikeluarkan dari tubuhku. Alhamdulillah, operasi pengangkatan tannou berjalan lancar. Tansekiku hanya tinggal empat butir. Mungkin yang lain telah keluar bersamaan dengan sakit yang selalu kuderita berkali-kali selama ini. Sayonara tanseki! Sayonara sakit!
Sayonara Tanseki! : Selamat tinggal batu empedu
Muri… : Tidak mungkin
Nyuuin : Dirawat
Koseibushitsu : Anti biotik
Tanseki : Batu empedu
Tenteki : Infus
Tannou : Kantung empedu



