Screen

Profile

Menu Style

Cpanel
  • PDF

Kacamata Hitam Ibu Muda

16
May 2010

Mendung menggelayut manja di tangkai langit pagi Yogyakarta berisi deposit uap air yang menunggu jatuh tempo membasahi jalanan kota. Pengguna jalan melambat dan akhirnya berhenti sejenak, beberapa penunggang motor mendongakkan helm menebak gerangan apa yang terjadi. Sebuah mobil kompak nan imut (compact city car) terbaru tersangkut tiang portal jalan perumahan di utara Yogyakarta. Rupanya sang pengemudi kurang menambah derajat manuver ban mobil ke kiri untuk masuk ke jalan utama.

Waktu terus berpacu, jalanan penuh sesak, klakson menjerit bersahutan menambah kepanikan pengemudi untuk segera keluar dari jerat portal. Mobil bergerak maju menyingkap cat pintu warna muda, melaju mundur menambah luka memanjang pada badan mobil. Simalakama kala pagi hari.

Sang pengemudi, seorang ibu muda, dendy, bersepatu hak tinggi, dan berkaca mata hitam, turun mendiagnosis luka mobilnya dan segera minta tolong orang untuk melepaskannya dari kutukan tiang portal. Ibu muda berkacamata hitam itu mungkin tidak sendiri. Ada puluhan, ratusan atau ribuan ibu-ibu hijrah dalam kegagapan urban dari wilayah domestik ke ranah publik.

Jumlah kendaraan bermotor mencapai 275.590 unit (2005) dengan pertambahan setiap tahun 11,8 persen untuk motor, dan 6,9 persen untuk mobil, menjadikan Yogyakarta makin padat merayap. Tidak peduli krisis ekonomi, fluktuasi harga BBM, atau ancaman pemanasan global, tiap pagi-petang, rombongan motor dan mobil mengalir deras, liar, dan ganas dari pinggiran ke pusat kota atau sebaliknya.

Yogyakarta bergegas di awal hari. Setiap pagi-sore, arus kendaraan terasa digeber, orang berebut kencang mengejar masuk kantor, sekolah, atau rumah. Meski demikian, anehnya di kelas atau ruang kuliah banyak yang datang terlambat. Ketegangan urat kota itu membuncah pada pukul 07.00-08.00 dan 15.00-16.00 dengan partisipan aktif pelajar SMA, mahasiswa, dan pekerja.

Dirayakan ibu-ibu

Namun, terlihat juga partisipan lain yang merayakan jalan di awal-ujung hari itu; ibu-ibu muda bermobil kinyis mengantar-jemput anak sekolah. Ini fenomena baru dalam beberapa tahun ini yang disemai pupuk oleh beragam keadaan. Pertama, desain mobil lebih kompak, imut, dan otomatis, yang menarik dimiliki, mudah dikendarai, dan diparkir.

Kedua, skema kredit yang murah dan mudah dengan uang muka beberapa belas juta, bunga flat, dan dengan bonus menggoda bisa membawa pulang mobil baru seketika.

Ketiga, keadaan jalanan kota yang halus, datar, dan bersambung membuat nyaman berkendara tanpa takut tersasar dan mogok.

Keempat, perwujudan rasa sayang suami kepada istri dengan membelikan mobil (walau secara kredit) untuk mobilitas sehari-hari sebagai dukungan emansipasi wanita di era (yang katanya) modern ini.

Slogan Yogyakarta berhati nyaman bertransformasi menjadi Yogyakarta bermobil nyaman. Maka di jalanan pagi itu, berlalu-lalanglah Swift, Jazz, Yaris, Karimun, Picanto, dan sejenisnya yang berisi anak-anak sekolah yang masih harus menghabiskan sarapannya sendiri atau disuapi, dikemudikan sang ibu muda berkacamata hitam. Ibu-ibu muda yang belum lama keluar dari keong domestiknya masuk ke halaman publik dengan gaya urban yang instan dan segenap kegagapannya.

Gaya urban yang instan nan gagap merupakan pelajaran berinteraksi di jalanan, dan di sisi lain sebagai atraksi hiburan bagi pengguna jalan. Misalnya, di suatu pagi, sebuah mobil imut hijau metalik mogok di lampu merah. Ibu muda berdandan menor mendongakkan kepala sambil memegang kemudi, mobilnya didorong dua polisi menepi agar terhindar dari caci-maki massa. Rupanya gas dan kopling belum sempurna dikuasai sehingga mesin mati mendadak. Mobilnya baru, dan baru pula si ibu muda belajar mengemudikan kendaraannya.

Kisah lain, sebuah mobil mungil merah muda juga mendapat kutukan klakson kendaraan di belakangnya karena terlalu ketengah dan hobi mengerem mendadak. Pengemudinya juga ibu-ibu berkacamata hitam yang akan mengantar putranya sekolah. Jok mobilnya masih terbungkus plastik, tetapi perilaku berkendaranya membikin mata mendelik.

Barangkali ini keniscayaan bagi masyarakat urban. Sayangnya, kiprah mereka di ruang publik dalam kabin-kabin logam yang steril dalam berinteraksi langsung dengan sesama pengguna jalan. Relasi mereka hanya melalui klakson atau dimmer lampu yang memerosotkan makna ruang publik.

Panjang jalan yang hampir stagnan, tetapi jumlah kendaraan bermotor yang melonjak tiap tahun menjadikan kepadatan yang parah merayapi ruas kota. Keadaan ini menuntut pemerintah bukan saja bersikap "kami mendengar dan kami tampung", tetapi lebih pada segera mengurai benang kusut yang basah dan lengket untuk masalah transportasi kota ini. Bila tak ingin Yogyakarta berhati nyaman hanya sebatas semboyan wisata.

Perencanaan kota

Dalam konteks yang lebih luas, pengaturan lalu lintas bertindih erat dengan perencanaan kota. Kondisi yang terjadi membuktikan bahwa perencanaan wilayah masih parsial. Di bidang transportasi, idealnya desain sistem transportasi massal terintegrasi dengan moda yang baik sehingga masyarakat terdorong dan memilih moda transportasi umum.

Di Jepang, penentuan lokasi SD harus dapat dicapai anak dengan jalan kaki tidak lebih dari 15 menit. Tidak ada sekolah favorit atau sekolah buangan, semua sama kualitasnya, baik di pinggiran maupun di pusat kota. Juga perlu ditunjang oleh pembatasan kepemilikan kendaraan bermotor dengan pemberlakuan pajak progresif. Jika terpaksa diantar, mereka akan dibonceng ibunya naik sepeda tanpa kacamata, apalagi berwarna hitam.

Rupanya kacamata hitam ibu-ibu muda yang bermobil adalah bentuk ketidakpercayaan diri mengendalikan tunggangan dan upaya menyembunyikan kegagapan atas perubahan gaya urbannya.

Semoga kacamata hitam ini tidak dipakai oleh pemerintah untuk mengatur sistem transportasi kota. YULIANTO P PRIHATMAJI Pendidik Arsitektur di UII Yogya, Pembelajar S-3 di Universitas Kyoto

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/30/1437481/kacamata.hitam.ibu.muda

You are here: Article Artikel Kacamata Hitam Ibu Muda